Always.. Selalu saja..
3 draft novel terkatung-katung nasibnya..Again.. Lagi-lagi begini..
Mau dipaksa tamat juga nggak mungkin, ujung-ujungnya nanti dirubah lagi gara-gara faktor K -"Ketidakpuasan jiwa"-
Kebiasan buruk banget ya..
1. Menambah ide di nyaris ending spot memang sulit dihindari, namun masalah datang saat otak bersamaan memproses terjemahan gambar film di langit-langit imajinasi menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat, lalu kalimat mencetak adegan tambahan yang nyaris merubah cerita.
I said, "You're overdoing its my dear brain."
and it says.. "But I love it.."
Ho-Ho-Ho..
2. Terlalu asyik berenang dalam lautan imajinasi membuat mata lelah, lalu tidur atau mencari pemandangan lain.. HANYA DITINGGAL SEKEJAP MATA, dan kemudian mood itu hilang begitu saja. Aku jadi curiga, jangan-jangan imajinasi dan mood yang baik memang dihasilkan oleh rasa lelah.. :(
Gawat pula urusannya kalau begitu..
3. Dan tanpa mood, seberapa kritispun.. seberapa romantispun.. atau pun-pun lainnya, jadi tidak berarti sama sekali.
4. Dan biasanya untuk membangun mood lagi, aku mencari draft lain atau malah membuat yang baru sama sekali. Kemudian.. nantinya akan berakhir di poin 1.
2 komentar:
Sydel!!!!! (kalo salah spelling benerin yah, saya ini sudah tterkenal guru salah spelling di sekolah sama murid saya ampe mau diikutin spelling bee bareng anak2 TK) Semua penulis begini, semua sahabatku yang suka nulis juga tapi yang belum berhasil publishing itu terganjal masalah ini. aku sendiri juga ngalamin, kita bahkan mau berikrar ngga boleh ganti ide sampai minimal satuuuuuuu buku aja selesai. mau ikut berikrar? hheheheheh btw salam kenal yaaaa
Bener kok namanya Sydel.. hehe
Senang juga rasanya tahu ada yang berbagi problem yang sama. Kapan-kapan bisa saling sharing tips.
Kalau gitu tambahin satu anggota lagi ya.. Aku berikrar untuk tidak murtad dari cerita dasar. ^!^ hoho..
Post a Comment